![]() |
| Photo by: humas UIN Syekh Wasil Kediri |
KEDIRI - Ruangan itu
dipenuhi kata-kata besar, kolaborasi, inovasi, dan dampak. Para rektor duduk
sejajar, program diluncurkan, dan harapan disusun rapi dalam satu agenda
bersama. Di forum itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa
menyampaikan pesan yang terdengar sederhana yakni riset perguruan tinggi harus
berdampak nyata bagi masyarakat. Kalimat itu tidak salah. Bahkan, ia terasa
seperti sesuatu yang seharusnya sudah terjadi sejak lama. Namun justru di
situlah letak keganjilannya. Jika riset memang ditujukan untuk masyarakat,
mengapa dampaknya masih sering terasa jauh.
Di dalam kampus,
penelitian terus berjalan. Proposal disusun, data dikumpulkan, laporan ditulis.
Setiap tahun jumlahnya tidak sedikit. Kampus tampak produktif seolah menjadi
pusat solusi bagi berbagai persoalan. Tapi di luar pagar kampus kehidupan
berjalan dengan masalahnya sendiri, harga kebutuhan naik, akses layanan belum
merata, persoalan sosial terus berulang. Di titik ini riset dan realitas
seperti berjalan di jalur yang berbeda. Banyak hasil penelitian berakhir
sebagai dokumen. Ia tersimpan rapi dalam jurnal, dipresentasikan dalam seminar,
lalu perlahan dilupakan. Bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak pernah
benar-benar menemukan jalannya menuju masyarakat. Ada jarak yang tidak kasat
mata, namun terasa nyata jarak antara pengetahuan dan kebutuhan.
Program kolaborasi riset
antar perguruan tinggi negeri yang diluncurkan pemerintah daerah mencoba
menjawab persoalan itu. Gagasan besarnya adalah menyatukan kekuatan kampus agar
tidak berjalan sendiri-sendiri. Tapi di balik gagasan tersebut, ada realitas
yang lebih rumit. Tidak semua kampus memiliki kapasitas yang sama, tidak semua
peneliti memiliki akses yang setara, dan tidak semua kerja sama berjalan tanpa
kepentingan masing-masing. Kolaborasi, dalam praktiknya, tidak selalu berarti
kesetaraan. Di sisi lain, arah penelitian sering kali tidak sepenuhnya lahir
dari kebutuhan masyarakat. Banyak topik dipilih karena relevan untuk publikasi
atau memenuhi tuntutan akademik. Dalam sistem yang menilai kinerja dari jumlah
output, riset yang cepat selesai dan mudah dipublikasikan sering menjadi
pilihan. Dampak sosial, yang membutuhkan waktu lebih panjang dan proses lebih
rumit, kerap tersisih.
Ketika pemerintah
mendorong agar riset menjadi lebih aplikatif, pertanyaannya bukan hanya pada
peneliti, tetapi juga pada sistem yang menaungi mereka. Apakah ada mekanisme
yang benar-benar menghubungkan hasil penelitian dengan kebijakan? Apakah ada
ruang bagi riset untuk diimplementasikan, bukan sekadar dipresentasikan? Tanpa
itu, riset akan tetap berjalan di lingkarannya sendiri. Yang jarang terdengar
dalam diskusi semacam ini adalah suara masyarakat. Mereka yang seharusnya
menjadi penerima manfaat, justru sering tidak dilibatkan dalam menentukan arah
penelitian. Mereka hadir sebagai objek, bukan sebagai penentu kebutuhan.
Padahal, jika riset ingin benar-benar berdampak, ia harus berangkat dari
persoalan yang dirasakan, bukan sekadar yang dirumuskan.
Program “Jatim Melaju
2026” membawa harapan baru. Ia menawarkan kemungkinan bahwa riset tidak lagi
berhenti di atas kertas. Namun harapan itu datang dengan ujian yang tidak
ringan. Mengubah cara kerja lama, menggeser orientasi dari sekadar output ke
dampak, serta membangun jembatan antara kampus, pemerintah, dan masyarakat
bukanlah pekerjaan singkat. Pada akhirnya, dampak tidak lahir dari forum atau
peluncuran program. Ia lahir dari keberanian untuk mengubah kebiasaan, dari
keputusan yang tidak selalu mudah, dan dari kesediaan untuk melihat kembali apa
yang selama ini belum berjalan.

0 Komentar